Budaya

BUDAYA

Secara umum terdapat 2 kelompok masyarakat lokal yang berdiam di Wilayah Kabupaten Mimika. mereka berbagi menurut wilayah hunian, yakni suku Kamoro di dataran rendah (umumnya bermukim di pantai dan pinggiran aliran sungai serta rawa) dan suku suku Amungme di dataran rendah hingga dataran tinggi.

Suku Kamoro 

Masyarakat Kamoro yang berdiam di dataran rendah umumnya disebut masyarakat pantai dan memiliki bahasa daerah sendiri. Wilayah dimana mereka tinggal merupakan wilayah yang kawa akan sumber daya alam, yakni antara teluk Etna hingga sungai Otakwa, antara dataran pantai hingga 50 mil ke arah pegunungan.

Ketergantungan pada kekayaan alam menjadikan mereka sering disebut sebagai suku peramu atau pengumpul. Pola menetapnya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Berburu di hutan, khususnya hutan bakau (mangrove), membuat sagu dan memancing ikan disungai atau laut, merupakan ciri yang melekat pad ahidup mereka. Perahu atau kano dekat dengan keseharian mereka, terutama sebagai sarana transporatasi dan komunikasi.

Suku Amungme

Masyarakat Amungme umumnya tinggal di dataran rendah di sekitar kota Timika, Distrik Agimuga dan pegunungan disekitar Distrik Tembagapura. Permukiman suku Amungme berdada disuatu daerah yang dianggap aman dan tidak berpindah-pindah. Mereka menetap dilokasi tersebut turun-temurun.

Menurut legenda yang diwariskan turun-temurun, konon orang Amungme berasal dari daerah Pangema (lembah Baliem), Wamena.Hal ini dapat ditelusuri dari kata Kurima, yang artinya “tempat berkumpul” dan Hitigama yang maknanya sebagai tempat pertama kali nenek moyang suku Amungme  dan lima suku lainnya, “Suku Dani, Damal, Nduga, Moni, Mee” mendirikan Honai (rumah tinggal) dari alang-alang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.